Minggu, 22 April 2012

BAYI ATAU ANAK ANDA NGOROK? SULIT BERNAFAS, SESAK atau SUSAH MENELAN? WASPADAI! BISA JADI ITU GEJALA ALERGI



Bunda...cuma ingin sekedar sharing saja mengenai pengalaman yang saya alami sebagai ORBA, alias Orang Tua Baru. Eh, siapa tahu bisa bermanfaat buat bunda2 yang lain yang babynya mungkin memiliki gejala yang sama dengan putri kami. 

Selang sepuluh harian setelah putri pertama kami "Ragata Hemasnala Saufi" lahir, saya dan suami baru menyadari kalo suara tangis putri kami agak berbeda dari biasanya. Suara tangisnya yang keras, tidak sejernih biasanya, seperti ada bunyi grok...grok alias ngorok. Waktu itu kami tidak langsung membawanya ke dokter. Berbekal informasi dari para tetua, alias orang2 tua di sekitar kami katanya itu biasa dialami anak bayi yang baru lahir, they said: mungkin itu cuma sisa air ketuban yang tertinggal, coz waktu lahir kurang tuntas saat dibersihkan atau disedot oleh perawat RS dimana putri kami dilahirkan. Kami pun sempat searching di internet, untuk mencari info mengenai gejala tersebut, dan umumnya informasi yang kami dapat, membenarkan pendapat para tetua tadi, yaitu gejala tersebut nantinya akan hilang sendiri setelah bayi agak besar. Kami pun merasa tenang sesaat. 
Namun dengan berjalannya waktu, suara grok...grok tersebut bukannya kian reda, malah ditambah lagi dengan bonus suara seperti sesak nafas...(ngik...ngik), yang orang jawa umumnya sebut dengan istilah "mengi", terutama tiap putri kami menangis merajuk minta susu atau minta digendong. Kami pun mulai cemas, segera kami bawa putri kami ke dokter spesialis anak, siapa tahu mungkin si kecil kami sedang batuk/ pilek sehingga terdapat lendir di tenggorokannya. Eh, lha kok ndilalah, begitu ketemu dengan dokter tersebut kami malah diceramahi panjang lebar dan dianggap terlalu "PARNO" sebagai orang tua baru. Info yang kami dapat dari dokter tersebut mendukung informasi yang kami dapat sebelumnya. Kami hanya diberi petunjuk, karena baby kami hanya minum ASI, maka sebaiknya ibunya menghindari mengkonsumsi kacang tanah, agar tidak membuat suara ngorok putri kami lebih keras. Disebabkan ada kemungkinan putri kami mengalami gejala alergi terhadap jenis makanan tersebut. Kok ya pas, waktu itu saya memang sedang getol-getolnya makan kacang garing demi berusaha meningkatkan produksi ASI saya. Maklum saja, ASI saya sempat tidak keluar beberapa hari dari putri kami lahir. Jadi, dengan berbekal obat tetes anti alergi yang direkomendasikan dokter, dan menghentikan konsumsi kacang tanah, maka waktu itu kami pun merasa PeDe kalau ngorok pada putri kami pasti akan berhenti atau minimal berkurang sedikit. Kenyataannya readers, bukannya makin berkurang, tapi kian sering kami dengar tidak hanya waktu menangis saja. Puncaknya, suhu badan si kecil pun malah tinggi, dan mengalami demam. Putri kami makin rewel karena kesulitan "ngentot" alias menyusu ASI sebab lendir di tenggorokannya. Dua malam penuh kami sekeluarga tidak tidur karena bergantian menggendong putri kami yang menangis kelaparan sebab kesulitan menghisap puting ibunya. Saat itu kami pun makin yakin kalo putri kami sedang mengalami gejala flu, dan dokter spesialis anak sebelumnya pasti salah dalam mendiagnosa. 

Singkat cerita bunda, kami pun membawa putri kami ke dokter spesialis anak yang kedua untuk memeriksakan panas dan ngoroknya, dan hasil diagnosanya tepat seperti perkiraan kami, putri kami mendapatkan obat batuk pilek dan obat panas ditambah dengan antibiotik. Saat itu besar harapan kami bahwa putri kami akan segera sembuh dengan mengkonsumsi obat yang telah direkomendasikan oleh dokter spesialis anak yang kedua. Namun apa yang terjadi? pagi hari, kami bawa putri kami ke dokter, sore harinya bukan malah lebih baik, tapi suhu badannya kian tinggi dan muncul bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya, mirip gejala Demam Berdarah. Saking cemasnya maka kami pun segera membawa putri kami ke dokter spesialis anak yang ketiga, yang langsung merekomendasikan si kecil kami untuk dirawat inap, agar bisa diobservasi penyakitnya lebih lanjut. Utamanya karena putri kami selain panas lebih dari dua hari, muncul bintik2 merah, juga karena kekurangan cairan disebabkan belum makan apapun dari sehari sebelumnya, sebab tidak dapat menelan ASI. 

Readers, pada kesimpulannya, setelah beberapa hari putri kami diobservasi, ternyata hasilnya suara ngorok yang parah pada bayi kami, bintik kemerahan, maupun suhu tubuhnya yang tinggi, bukan dikarenakan batuk/ pilek, bukan dikarenakan air ketuban yang tertinggal, bukan permasalahan pada paru-parunya (karena sempat pula di rontgen paru-parunya), bukan pula gejala demam berdarah, namun lebih dikarenakan alergi terhadap zat makanan tertentu, yang didapat dari mengkonsumsi ASI ibunya. Bayi dengan kasus-kasus kecenderungan alergi semacam itu, menurut dokter putri kami, jika menyusu dengan ASI maka ibu dari bayi harus sangat berhati-hati dengan makanan yang dikonsumsi oleh sang ibu tersebut. Tidak semua jenis makanan yang dikonsumsi ibu menjadi asupan yang baik untuk bayi alergi, banyak diantaranya pilihan-pilihan jenis makanan yang justru membuat bayi alergi tidak kuat sehingga menimbulkan cairan lendir yang memberikan efek suara ngorok atau grok...grok jika dikonsumsi terus-terusan. Akibatnya jika tidak dicegah, lama kelamaan daya tahan tubuh bayi akan diserang dan menjadi panas tinggi seperti yang terjadi pada putri kami, dan tidak mampu menelan ASI karena tenggorokannya yang mungil terhalang cairan lendir, sehingga kesulitan bernafas dan membuat suaranya agak "mengi" tadi. Nah, pada kasus putri kami, bahan makanan yang dicurigai menjadi penyebab timbulnya alergi adalah susu sapi. Hmm...mungkin readers bertanya-tanya, katanya putri kami minum ASI, kok bisa alergi susu sapi? Kebetulan memang sekali lagi demi alasan ingin menambah volume ASI saya, saya pun mengkonsumsi susu untuk ibu menyusui. Hehe, jadi para bunda, hati-hati yah, susu menyusui tidak selalu baik untuk bayi kita. Jika bunda sekalian bermaksud untuk memboosting produksi ASI agar lebih banyak, namun ragu apakah bayi anda alergi atau tidak, sebaiknya gunakan produk yang selain susu, yaitu bisa digantikan dengan sayuran atau produk vitamin yang mengandung daun katuk. Alhamdulillan, setelah 4 hari dirawat dan diterapi uap beberapa kali, putri kami pun kondisinya membaik, dengan catatan ibunya, yaitu saya harus super extra menjaga makanan alias puasa mengkonsumsi jenis-jenis makanan tertentu yang dapat membuat putri kami kembali terserang alergi. 

Nah, jenis makanan apa saja yang dapat membuat bayi yang memiliki kecenderungan alergi mengalami gejala-gejala seperti yang saya sebutkan tadi? Disini saya akan berbagi sedikit pengetahuan mengenai ALERGI PADA ANAK yang telah saya dapatkan dari konsultasi dengan dokter spesialis anak kami yang ternyata merupakan seorang ahli alergi terhadap anak, dan menjadi chief di pusat penelitian alergi di sebuah RS yang ternama di Surabaya. Siapa tahu berguna buat para readers sekalian, utamanya buat para bunda yang putra atau putrinya memiliki gejala- gejala seperti apa yang saya kutip dari beberapa sumber berikut ini, agar tidak segera menunda untuk dibawa konsultasi dengan dokter spesialis anak yang tepat.

ALERGI PADA ANAK

Bunda...Ternyata alergi pada anak dapat timbul sebagai reaksi terhadap lingkungan atau makanan pendamping yang tidak cocok dengan sistem imun (daya tahan tubuh) anak yang masih dalam masa tumbuh kembang. Faktor Resiko gejala alergi ini umumnya didapat dari Riwayat Keluarga yang Alergi, Pemberian Makanan padat atau susu sapi sebelum usia 6 bulan (alergi terhadap susu sapi adalah kasus yang paling sering ditemui pada bayi), dan paparan terhadap tungau atau debu rumah. Yap, karena jenis alergi sendiri ternyata macam-macam lho bunda. 

PROSENTASE RESIKO ALERGI BASED ON RIWAYAT KELUARGA:

1. Jika Orang tua dan saudara kandung tidak ada alergi, maka risiko alergi terhadap anak anda sekitar 10 -20%
2. Salah satu orang tua alergi, maka resiko alergi terhadap anak 10 - 20%
3. Salah satu saudara kandung alergi, maka resiko alergi terhadap anak 30%
4. Kedua orang tua alergi (meski dengan jenis yang berbeda), maka resiko alergi terhadap anak 40 - 80%
5. Kedua orang tua mengalami gejala alergi yang sama, maka resiko alergi terhadap anak 72%

JENIS/ MACAM ALERGI

1. Alergi Pernapasan
Umumnya disebabkan menghirup udara yang mengandung zat-zat: serbuk bunga (pollen), tungau, debu, asap rokok. Gejalanya: Mata gatal dan berair, hidung berair dan tersumbat, pilek, batuk

2. Alergi Kulit
Penyebabnya kontak dengan zat-zat seperti nikel, emas, parfum, dll. Gejalanya: kulit merah, bengkak, gatal, dermatitis

3. Alergi Makanan
Biasanya terjadi pada anak dengan usia kurang dari 3 tahun. Penyebabnya beberapa jenis makanan seperti, kacang, susu sapi, susu kedelai, dll. Gejalanya: perut kram, mual, muntah, diare.

4. Reaksi berat (anafilaksis)
Penyebabnya obat penisilin, sengatan lebah. Gejalanya: sesak nafas, susah menelan, pingsan.

Nah readers, dari berbagai macam alergi yang disebutkan di atas tadi, maka BEWARE kalo putra atau putri anda mengalami salah satu gejala atau mungkin malah beberapa gejala seperti di atas. Kram perut, muntah, sulit bernafas, sesak, susah menelan, timbul bintik2 di muka atau di badan, gatal, pilek dan batuk yang tidak sembuh-sembuh, diare yang tidak sembuh-sembuh, atau bahkan nyeri di daerah sinus, bisa jadi merupakan gejala-gejala awal dari reaksi alergi. So, jangan dianggap enteng! Saran saya segera konsultasikan, dan sebaiknya langsung ke dokter spesialis anak deh, agar lebih tepat diagnosanya. Sayang kan kalo putra atau putri anda yang masih bayi atau balita terlanjur menelan obat-obatan 
keras yang ternyata tidak dibutuhkan oleh penyakitnya yang sebenarnya, hanya karena kesalahan diagnosa di awal.

PENCEGAHAN ALERGI

1. Hindari penyebab alerginya, jika memiliki alergi pernafasan, maka usahakan jauhkan dari sumber alerginya seperti debu, asap rokok atau pengharum ruangan yang berlebihan. Jika alergi terhadap makanan, maka sementara hindari makanan penyebab atau yang beresiko menimbulkan alergi.

2. Pemberian ASI Exclusive selama 6 bulan pertama. Nah, ini yang paling penting, meskipun dokter merekomendasikan susu formula anti alergi yang paling mahal sekalipun, tetap jauh lebih baik pemberian ASI. Jika bayi alergi terhadap makanan tertentu, maka sebaiknya ibunya yang mengalah untuk tidak menkonsumsi makanan tersebut sementara. Susu formula anti alergi sebaiknya hanya digunakan apabila dikarenakan satu atau lain hal, sang ibu tidak dapat memberikan ASI, seperti saat kondisi ibu sedang sakit yang bisa membahayakan kondisi bayi.

DIET ALERGI

Berikut jenis makanan yang perlu dihindari (diet selama 4 minggu) jika buah hati anda memiliki resiko alergi. Sekali lagi saya ingatkan jika alergi terjadi pada bayi yang masih menyusu ASI maka, jenis-jenis makanan tersebut sebaiknya dihindari oleh sang ibu. Dan ingat, untuk penerapan dietnya konsultasikan dengan dokter anda, karena tidak semua makanan tersebut dilarang dikonsumsi, tergantung macam resiko alergi yang diderita

B: Buah 
Semua buah yang menggantung termasuk kelapa, tomat, keluwek, nangka muda (sayur asem, sayur nangka, rawon), ganti dengan sayuran atau bengkuang

S: Susu Sapi & Semua produknya
Termasuk roti, biskuit, ice cream, keju, permen susu, dan bebrbagai produk yang mengandung susu, bisa diganti dengan jajan pasar seperti lapis atau klepon

T: Telur & Semua Binatang Berkaki Dua (Bebek, Ayam, Burung Dara)
Termasuk semua yang mengandung bahan tersebut (roti, mie telor, mie instant, dan kue-kue yang mengandung telur)

I: Ikan Air Laut dan Tawar

K: Kacang-kacangan
Semua jenis kacang termasuk kacang hijau dan produknya (bihun), kecuali kacang kedelai dan kacang panjang

Jangan lupa bunda, hindari juga makanan yang mengandung MSG dan yang banyak mengandung bahan pengawet serta yang mengandung bahan pewarna seperti jelly. Lakukanlah  diet selama 4 minggu, bila sudah sembuh, tiap minggu dapat dicoba satu jenis makanan selama satu minggu penuh. Bila gejala muncul kembali, berarti anak rentan alergi terhadap bahan makanan tersebut, sebaiknya dihindari mengkonsumsi bahan tersebut. Jadi sebaiknya anak yang alergi atau ibu menyusui bayi dengan kecenderungan alergi sementara mengkonsumsi makanan yang cenderung aman seperti daging, tahu tempe dan sayur selama 4 minggu dari sejak gejala alergi tersebut muncul pada anak. Contohnya setelah 4 minggu anak tetap makan daging, tahu, tempe dan sayur, kemudian ditambah dengan susu sapi ternyata tidak kambuh, maka putra atau putri anda berarti tidak lagi alergi terhadap bahan makanan tersebut, seiring perkembangannya. Demikian, sementara sedikit info yang bisa saya bagi dengan para reader semuanya, yang mungkin bermanfaat bagi para bunda dan ayahanda yang sedang browsing mengenai gejala-gejala yang sama yang mungkin dialami oleh putra atau putri tercinta. Segera konsultasi ke dokter terpercaya dan semoga buah hatinya cepat sembuh....Amiin.

Source: Brochure "Alergi Pada Anak", by dr. Maretha S, Sp.A, Poli Anak RSI Jemursari, Surabaya

Special thanks to dr. Zahrah Hikmah Sp. A


4 komentar:

  1. Nice info mommy nya ata... Thanks..

    BalasHapus
  2. Bunda makasih infonya, anaku juga mengalami hal yang sama, sekarang juga lagi bingung, kasihan lihatnya.bunyi grok2 terus.

    BalasHapus